Tongkatku patah..
di ketika aku galak meniti lorong berliku
di saat aku lincah meniti ranjau menggunung berduri
kesasaran aku
terketar-ketar aku
menggagahi kaki menghayun kederat
meneruskan perjalanan yang belum terlihat
bayang titik arah tujuan
menangis aku
ditimpa hujan batu di tandus kemarau
tersembam aku
dipelangkung peluru sakti di tengah hutan berduri
tidak berdaya aku
mengharung tsunami merah setinggi awan
berdarah kakiku
tersandung busut berjeriji besi nan tajam menikam
lelah aku
menggapai dedahan pohon semalu yg kuncup untuk berdiri
dimana untuk aku mendapatkan ganti
agar aku dapat berdiri gagah setinggi langit
agar aku dapat berlari merentas duri
agar aku dapat berenang menyeberang lautan tak bertepi
atau aku harus mandiri
menyerahkan segala kepada Ilahi
memohon perlindunganNya dari segala bah dan kemarau
mengharap bimbinganNya untuk aku terus berlari
menuju hakiki
di ketika aku galak meniti lorong berliku
di saat aku lincah meniti ranjau menggunung berduri
kesasaran aku
terketar-ketar aku
menggagahi kaki menghayun kederat
meneruskan perjalanan yang belum terlihat
bayang titik arah tujuan
menangis aku
ditimpa hujan batu di tandus kemarau
tersembam aku
dipelangkung peluru sakti di tengah hutan berduri
tidak berdaya aku
mengharung tsunami merah setinggi awan
berdarah kakiku
tersandung busut berjeriji besi nan tajam menikam
lelah aku
menggapai dedahan pohon semalu yg kuncup untuk berdiri
dimana untuk aku mendapatkan ganti
agar aku dapat berdiri gagah setinggi langit
agar aku dapat berlari merentas duri
agar aku dapat berenang menyeberang lautan tak bertepi
atau aku harus mandiri
menyerahkan segala kepada Ilahi
memohon perlindunganNya dari segala bah dan kemarau
mengharap bimbinganNya untuk aku terus berlari
menuju hakiki
No comments:
Post a Comment